A Message from Intro(Ambi)vert Person — Pesan dari Seorang Intro(Ambi)vert

English Version

I do not understand why so many people consider that being an introvert is such a bad thing. Assuming we are incapable of making friends, socializing, initiating conversations, and the worst part is not being able to grow in the future especially in the world of work if we are constantly shutting ourselves from the outside world, from the social environment.

We need to emphasize, that we do not close ourselves from the association. We are not incapable of socializing, or starting a conversation. We are different from you, and being different does not mean we are worse than you. It’s just the way we making friends, socialize different with you. Maybe you can easily start a conversation with someone you have not known, or at least try to get into a social environment. But not so with us.

We (I mean myself), need to think at least twice to really decide whether getting acquainted with the person or group has a match with us. There is a saying: “Enter the lions’ den to become a lion, enter the sheepfold to be a sheep”. The point is our ability to adapt to a new environment that we enter. Take a good look, we’re not not adaptable, but we prefer not to get into that environment if we do not feel comfortable in that environment. Or if it is very, very forced, we would prefer to silence a thousand languages. Those are the things that become our name. Lack of friends, nerds, anti social, etc. Sometimes I feel annoyed when told or forced to mingle in an environment I already know. The problem is I feel very, very uncomfortable being among those people. I know these people, and they also know me, maybe they claim they know me that they really do not know me personally. What they may know is what they have seen from the outside and draw their own conclusions from it. I do not like to be forced like that especially when added with the words, “Someday you will need them.” Honestly maybe they will need me someday but believe me I would prefer to ask for help from people I do not know (institutions) than them. Somehow I can think like that.

For us, we’d better have one friend who knows us very well and we believe instead of having thousands of friends who do not really know us, and then stabbing us in the back. Even at certain moments we prefer ourselves. We are not typical people who like to tell all the events we’ve experienced on everyone we meet. Especially for me personally (ambivert that is leaning towards introvert), I will only tell the story of everyday occurrences, but not with personal events. We had our own ‘space’. When we encounter problems we tend to be silent and choose to sneak in our own sadness. In my case, I will write down my whole grief, my sadness to a book. (Note to true introverts, whatever your problem, you have to have something to deal with your problems, otherwise it would be fatal to your mental health.) Sometimes in certain circumstances we do not need others. Precisely with the presence of others, it actually makes us feel disturbed, makes us feel uncomfortable and reluctant to be honest when asked why. We need our own ‘personal space’. And we hope no one passes by. It may be different from an extrovert person who can easily tell the truth, telling all his friends. We are able to recover ourselves in our personal scope.

On several occasions I’d love to shout to those who say that I should open up, “You do not know anything about me!” I find it very objectionable to be forced to start a conversation or mingle in a certain new group. We just feel that not everyone can be trusted. It’s hard to find people who are truly sincere with us. There are some people who purposely approached us just to take advantage of us alone. And to us, these people can not be trusted. So more precisely we are careful in choosing friends. We see from various side, how life of that person, we do not want to misstep. For us, if anyone ever really believes and then disappoints us, it’s impossible to believe it again. Not that we do not believe in our closest friends. We believe, but the things we are entrusting are not personal things that when it comes to leaking can embarrass our name. Some of the people we trust about things that are very sensitive about our personal, the person is very great. They made it into our scope, but coming back does not mean all the personal things we entrust to them.

Still do not understand? I will illustrate by preaching I have heard. We are like a house. There are 5 scopes we have.     

  1. Outside the fence: the people outside our fences are the only people we allow to see us from the outside. They know nothing about us at all.     
  2. On the porch: they allowed us to enter the front of the house, but only on the terrace, just looking around our front yard, without us allowing entry into the house. These people greeted us, talked to us a number of times but were limited to that.     
  3. In the guest room: it’s pretty good when these guys get into the living room. These people know us well enough, and do not hesitate to joke with us, these guys know a little about our background and we often talk to just a little chat.
  4. In the living room / family / kitchen / dining room: very, very few people really get into this living room. Because this is where we can begin to open up, we may often vent, talk about the problem, very very close, often walk together, not awkward anymore, and others.
  5. In room: room is a private room, a place where we keep our various secrets. And I personally are the ones who keep so many secrets. I do not know how you guys introverts or other ambivert set it up but only less than 5 people have ever entered my ‘room’. And those people I got from my ‘room’ because they were not enough I believed to be in my personal space. Some of them I was quite surprised because they were not the ones who could make me believe in them. So now the room is just me and God. My advice to all of you, regardless you introvert, ambivert, extrovert or do not care at all about it, keep your ‘room’ well. Do not let someone who is not responsible and do not know yourself to steal your valuables and spread it to the world.

You will not know how it feels to be a intro(ambi)vert if you have never been a intro(ambi)vert. Do not be knowledgeable.

*Sorry for my bad grammar.*

Indonesian version

Aku tidak mengerti mengapa begitu banyak orang menganggap bahwa menjadi seorang introvert adalah hal yang begitu buruk. Dengan anggapan bahwa kami tidak mampu bergaul, bersosialisasi, memulai percakapan, dan bagian terburuknya adalah tidak mampu berkembang di masa depan khususnya di dunia kerja bila kami terus menerus menutup diri dari dunia luar, dari lingkungan pergaulan yang ada.

Perlu kami tekankan, bahwa kami tidak menutup diri dari pergaulan. Kami bukannya tidak mampu bergaul,  bersosialisasi, atau memulai percakapan. Kami berbeda dengan kalian, dan menjadi berbeda bukan berarti kami lebih buruk dari kalian. Hanya saja, cara kami bergaul, bersosialisasi berbeda dengan kalian. Mungkin kalian bisa dengan mudahnya memulai suatu percakapan dengan orang yang belum sama sekali kalian kenal, atau setidaknya berusaha untuk masuk ke dalam suatu lingkungan pergaulan. Namun tidak demikian dengan kami.

Kami (saya maksudnya), perlu berpikir setidaknya dua kali untuk benar-benar memutuskan apakah berkenalan dengan orang atau kelompok tersebut memiliki kecocokan dengan kami. Ada pepatah mengatakan “Masuk kandang singa jadi singa, masuk kandang domba jadi domba“. Maksudnya adalah kemampuan kita untuk beradaptasi dengan suatu lingkungan baru yang kami masuki. Perhatikan baik-baik, kami bukannya tidak bisa beradaptasi, tapi kami lebih memilih untuk tidak masuk ke dalam lingkungan tersebut bila kami memang merasa tidak nyaman berada dalam lingkungan tersebut. Atau bila sangat-sangat terpaksa, kami akan lebih memilih untuk diam seribu bahasa. Hal-hal itulah yang kemudian menjadi sebutan bagi kami. Kuper, kutu buku, ansos, dsb. Kadang saya merasa kesal bila disuruh atau dipaksa untuk berbaur dalam suatu lingkungan yang sudah saya kenal. Masalahnya adalah saya merasa sangat-sangat tidak nyaman berada diantara orang-orang tersebut. Saya tahu orang-orang tersebut, dan mereka juga tahu saya, mungkin mereka mengklaim mereka mengenal saya yang sesungguhnya mereka tidak mengenal saya secara pribadi. Apa yang mungkin mereka kenal adalah apa yang selama ini mereka lihat dari luar dan menarik kesimpulan sendiri dari hal tersebut. Saya tidak suka jika dipaksa seperti itu apalagi bila ditambah dengan perkataan, “Suatu hari kamu akan membutuhkan mereka.” Jujur saja mungkin mereka akan kubutuhkan suatu hari nanti tapi percayalah saya akan lebih memilih meminta bantuan orang-orang yang tidak saya kenal (lembaga-lembaga) ketimbang mereka. Entah mengapa saya bisa berpikir seperti itu.

Bagi kami, lebih baik kami memiliki satu orang teman yang sangat amat mengenal kami dan kami percaya daripada memiliki beribu-ribu teman yang tidak terlalu mengenal kami, apalagi sampai menusuk kami dari belakang. Bahkan di saat-saat tertentu pun kami lebih memilih sendiri. Kami bukan tipikal orang yang senang menceritakan semua kejadian-kejadian yang kami alami pada setiap orang yang kami temui. Khusus untuk saya pribadi (ambivert yang condong ke arah introvert), saya hanya akan menceritakan kejadian basa-basi yang terjadi sehari-hari, tapi tidak dengan kejadian-kejadian yang bersifat pribadi. Kami memiliki ‘ruang’ kami sendiri. Ketika kami menghadapi masalah kami cenderung diam dan memilih menyipan sendiri kesedihan itu. Dalam kasus saya, saya akan menuliskan seluruh kekesalah saya, kesedihan saya pada sebuah buku. (Catatan untuk para introvert sejati, apapun masalah kalian, kalian harus memiliki suatu hal sebagai penyalur masalah kalian, kalau tidak akan berakibat sangat fatal bagi kesehatan mental kalian.) Kadang dalam kondisi tertentu kami tidak membutuhkan orang lain. Justru dengan adanya kehadiran orang lain, hal tersebut malah membuat kami merasa terganggu, membuat kami merasa risih dan enggan untuk berterus terang bila ditanya kenapa. Kami membutuhkan ‘ruang pribadi’ kami sendiri. Dan kami berharap tidak ada yang melewatinya. Mungkin berbeda dengan orang ekstrovert yang bisa dengan mudahnya berterus terang, bercerita pada seluruh teman-temannya. Kami mampu memulihkan diri kami sendiri dalam ruang lingkup pribadi kami.

Dalam beberapa kesempatan saya ingin sekali rasanya berteriak kepada orang-orang yang mengatakan bahwa saya ini harus membuka diri, “Kalian tidak tahu apa-apa tentangku!” Saya merasa amat sangat keberatan bila dipaksa untuk memulai percakapan atau berbaur dalam suatu kelompok baru tertentu. Kami hanya merasa bahwa tidak semua orang bisa kami percayai. Sulit sekali menemukan orang yang benar-benar tulus terhadap kita. Ada beberapa orang yang sengaja mendekati kita hanya untuk memanfaatkan kita semata. Dan bagi kami, orang-orang tersebut tidak bisa dipercaya. Jadi lebih tepatnya kami ini berhati-hati dalam memilih teman. Kami melihat dari berbagai sisi, bagaimana kehidupan orang tersebut, kami tidak mau sampai salah langkah. Bagi kami, bila sampai ada orang yang benar-benar kami percaya lalu ternyata mengecewakan kami, itu rasanya mustahil untuk memercayainya lagi. Bukan berarti kami tidak percaya pada teman-teman terdekat kami. Kami percaya, namun hal-hal yang kami percayakan bukan hal-hal yang bersifat pribadi yang bila sampai bocor dapat memalukan nama kami. Beberapa orang yang kami percayakan mengenai hal-hal yang sangat sensitif mengenai hal pribadi kami, orang tersebut sangat hebat. Mereka berhasil masuk dalam ruang lingkup kami, tapi kembali bukan berarti semua hal pribadi kami percayakan pada mereka.

Masih belum paham? Saya akan ilustrasikan berdasarkan khotbah yang pernah saya dengar. Kita ini bagaikan rumah. Ada 5 ruang lingkup yang kami miliki.

  1. Di luar pagar : orang-orang yang berada di luar pagar rumah kami adalah orang-orang yang hanya kami ijinkan melihat kami dari luar saja. Mereka sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kami.
  2. Di teras rumah : mereka kami ijinkan masuk ke area depan rumah, namun hanya sebatas berada di teras saja, hanya melihat-lihat pekarangan depan kami, tanpa kami ijinkan masuk ke dalam rumah. Orang-orang ini bertegur sapa dengan kami, beberapa kali bercakap-cakap dengan kami namun hanya sebatas itu.
  3. Di ruang tamu : cukup hebat bila orang-orang ini bisa masuk sampai ke ruang tamu. Orang-orang ini cukup mengenal kami, dan tidak sungkan untuk bercanda dengan kami, orang-orang ini sedikit mengetahui latar belakang kami dan sering kami ajak ngobrol untuk sekedar basa-basi.
  4. Di ruang tengah/keluarga/dapur/ruang makan : sangat-sangat sedikit sekali orang yang benar-benar mampu masuk ke dalam ruang tengah ini. Karena disinilah kami bisa mulai membuka diri, kami mungkin sering curhat, bercerita mengenai masalah yang ada, sangat amat dekat sekali, sering jalan-jalan bersama, tidak canggung-canggung lagi, dan lainnya.
  5. Di kamar : kamar adalah ruang pribadi, tempat dimana kami menyimpan berbagai macam rahasia kami. Dan saya pribadi adalah orang yang menyimpan begitu banyak rahasia. Saya tidak tahu bagaimana kalian para introvert atau ambivert lain mengaturnya tapi hanya kurang dari 5 orang yang pernah memasuki ‘kamar’ saya. Dan orang-orang tersebut saya depak dari ‘kamar’ saya karena ternyata mereka tidak cukup saya percaya untuk berada di dalam ruang pribadi saya. Beberapa di antaranya saya cukup kaget karena ternyata mereka bukanlah orang yang mampu membuat saya percaya pada mereka. Jadi kini ruangan tersebut hanya ada saya dan Tuhan. Saran saya pada kalian semua, terlepas kalian introvert, ambivert, ekstrovert atau tidak peduli sama sekali akan hal itu, jagalah ‘kamar’ kalian baik-baik. Jangan sampai seseorang yang tidak bertanggung jawab dan tidak tahu diri datang mencuri barang-barang berharga kalian dan menyebarluaskannya pada dunia.

Kalian tidak akan tahu rasanya menjadi seorang intro(ambi)vert kalau kalian tidak pernah menjadi seorang intro(ambi)vert. Jangan sok tahu.



One thought on “A Message from Intro(Ambi)vert Person — Pesan dari Seorang Intro(Ambi)vert

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )


Connecting to %s